Resensi Film Tokyo Ghoul: Tak Terlalu Menggigit Tapi Cukup Membuat Puas

| Oleh: Kylo | 11 Sep 2017 - 6:00 AM
250
0
resensi film live action tokyo ghoul

Bulan Agustus lalu, kita dihibur oleh film Gintama di bioskop. Nah, pada bulan ini ada film live-action yang diadaptasi dari manga populer, Tokyo Ghoul, karya mangaka Sui Ishida.

Bagi yang kurang familiar dengan manganya, jangan khawatir. Di awal film akan ada penjelasan mengenai dunia Tokyo Ghoul. Di film yang berseting di kota Tokyo itu, umat manusia telah menyadari selain mereka ada mahluk lain yang juga hidup berdampingan bersamanya. Mahluk-mahluk tersebut adalah Ghoul, yang berpenampilan luar seperti manusia biasa tapi hanya bisa bertahan hidup dengan mengkonsumsi daging manusia.

Enggak semuanya Ghoul itu jahat, ada yang ingin hidup damai jauh dari segala keramaian. Tapi ada juga yang membuat kekacauan dengan menyerang orang-orang disekitarnya untuk memuaskan rasa laparnya.

ulasan film live action tokyo ghoul

Tokoh utama dari film ini adalah Ken Kaneki (diperankankan Masataka Kubota) yang awalnya seorang manusia biasa yang kemudian berubah menjadi sosok setengah Ghoul. Dengan perubahan drastis yang terjadi kepada dirinya, Kaneki yang kemudian bekerja paruh waktu di kafe “Anteiku”, harus bisa beradaptasi di dua dunia, dunia manusia dan dunia para Ghoul.

Pada dasarnya film ini hanya mencakup cerita yang terdapat di ketiga volume awal dari manga Tokyo Ghoul. Ada beberapa perubahan disana-sini, yang membuat versi live-action movienya menjadi berbeda dengan manganya. Tapi, untuk para fans setianya dijamin akan puas dengan versi adaptasi ini. Terutama dengan penampilan Masataka Kubota sebagai Kaneki.

Di film berdurasi 120 menit itu, Kubota berhasil memerankan dengan sangat baik peran Kaneki yang awalnya adalah seorang mahasiswa yang polos hingga dia berubah menjadi manusia setengah Ghoul dengan penuh pertentangan di dalam batinnya.

review film live action tokyo ghoul

Alur film Tokyo Ghoul sendiri bisa dibilang agak lambat, tapi dengan ceritanya yang mendalam dan para karakternya yang sukses menjiwai perannya masing-masing, membuat film yang akan tayang selain di bioskop XXI asik untuk disimak hingga akhir. 

Untuk adegan fightingnya, walau porsinya minim tapi lumayan seru. Terutama ketika para Ghoul sudah mulai mengeluarkan Kagune-nya dan Amon bersama Mado, sang para pemburu Ghoul yang dijuluki sebagai “White Dove” dari CCG mengeluarkan Quinque-nya. Sayangnya ada di beberapa adegan dimana efek visual dari Kagunenya terasa keliatan CGI-nya. Namun itu semua, tak begitu mengurangi keseruan dari filmnya sendiri.

Overall, Tokyo Ghoul adalah sebuah film adaptasi yang setia dengan sumber aslinya dengan sedikit perbedaan namun tetap menjadi sebuah tayangan yang seru. Enggak mengenyangkan, sih, tapi cukup membuat para fansnya puas, hehehe. Karena tayangannya bernuansa gelap dan agak sadis, disarankan buat yang masih berada di bawah umur tidak menyaksikan film Tokyo Ghoul yang akan mulai tayang di bioskop Tanah Air mulai tanggal 13 September 2017 ini.

Score: 3/5

.